sebuah corat coret Nurul Anisa Putri Senin pagi menuju Jakarta, Sabtu pagi meninggalkan Jakarta Free Hit Counters
Free Web Counter

 

Kenapa kita harus masuk sekolah yang bagus dan punya pendidikan yang baik?

Akhir akhir ini gue merasa bahwa apa yang gue alami selama ini ada benang merahnya. Kenapa gue cape cape dan merasa diarahkan masuk sekolah yang terbilang bagus, kenapa selama ini gue berusaha untuk masuk sekolah yang bagus. Kebanggaan? Ya, sedikit. Uang? Yakali masuk sekolah bagus bisa dapet uang dari langit tiba tiba.

Rasa rasanya manfaat itu baru gue rasain sekarang, meski tidak menjadi juara di kelas, punya nilai yang dibilang biasa biasa saja, pada akhirnya gue bersyukur karena pernah jadi bagian dari sekolah dan lingkunganyang bagus. Sekolah yang bagus itu belum tentu mahal, tapi bagaimana sekolah yang bisa mengarahkan lu menjadi manusia yang bermanfaat kepada orang lain di masa depan.

Apalagi suasana di dalam dunia kerja, sekolah bagus akan membawa kepribadian lu secara intelektual, pernah gue baca somewhere cara tercepat menaikan tingkat sosial kita secara vertikal adalah melalui pendidikan. Pendidikan tidak membawa kita ke tempat kerja yang bagus, yang keren, yang bonafit, yang bisa jadi pejabat, pendidikan membuat kita menjadi orang yang berkarakter. Yang membuat kita bisa diterima dimana saja karena latar pendidikan kita yang baik.

Menurut gue semua orang punya pendidikan yang baik, tapi ada satu hal yag gak gue suka, cara mereka menghafal sesuatu. Selama ini lo sekolah cuman buat menghafal? Hello.. kelaut aja sana ngapain lo cape2 dapet ijazah tapi yang lo dapat cuma hafalan. 

Tidak hanya itu, networking, cara berpikir, cara menyelesaikan masalah buat, ini adalah bonus cuma cuma jika kita menjadikan pendidikan adalah sebagai satu langkah maju kedepan. Dan pendidikan membuat kita berpikir sistematis.

Gue masih punya keinginan untuk S2, selama ini selalu ada excuse untuk menjalankannya, ya karena gue belum mau. Untuk sekarang ya belum, tapi lihat saja nanti. Mungkin waktu memilih yang terbaik untuk segala pendidikan yang gue terima.

keep learning, gak ada alasan  takut jauh dari jodoh karena pendidikan., gak ada alasan takut jauh dari jodoh karena punya kerjaan dan gaji yang oke and the logic is mereka yang gak worth it memperjuangkan lo!

Adegan Bandara

Akhir akhir ini memang tren terkini lagi sering liat momen adegan bandara. Saya memang gak pernah tahu sih rasanya, sampai saya bilang sama temen temen saya kalian salah satu dong ada yang kuliah ke luar biar ada adegan bandara. Awalnya saya pikir adegan bandara itu menyenangkan.

Sampai seorang teman bilang, lu pikir adegan bandara enak? gak enak kali ditinggalin gtu,rasanya pengen nangis apalagi bertahun tahun. kecuali lo yang dianterin ke bandara mungkin itu jadi momen manis buat lo.

Oh, well gue salah menerka. Adegan bandara harusnya tidak gue idamkan. Gue pikir itu keren, berandai andai dia pergi kesana menuntut ilmu dengan kerennya. Preeet.

Ternyata kenapa adegan bandara itu gue anggap keren, kebanyakan nonton film sih, ngejar adegan bandara yang keren keren. Film aadc, eiffel i’m in love, finding mr. destiny, dan film film lainnya yang menyatakan adegan bandara itu manis.

Nyatanya, adegan bandara yang pernah saya rasakan selalu konyol, entah itu ke bandara hampir telat pake gak mandi padahal buat kerjaan, entah ngejar jam boarding sambil dorong barang berat di changi dari pintu paling ujung, kepagian 5 jam di bandara, dan ngejar pesawat d tengah kemacetan makassar sambil bawa otak otak dan sirup markisa yg beratnya naujubile. Gak ada yang manis, gak ada yang mengharukan, tapi gue deg degan kayak mau pingsan. Gatau bakal ada adegan bandara apa lagi yang bakal terjadi? So far, saya gak bakal sedih karena mungkin gak ada yang bakal tiba tiba ngebuat adegan bandara saya jadi mengharukan. but, who knows?

Pendidikan Indonesia di Mata Dunia

Bolang si Bolang

Waktu kecil, saya selalu berpikiran untuk punya teman-teman dengan visi yang sama. Sebuah kumpulan teman-teman yang bisa berpetualang bersama. Ternyata di waktu kuliah lah saya menemukannnya. Teman-teman yang tidak secara sengaja terkait satu sama lain. Berawal dari Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, bekerja di berbagai perusahaan swasta dan sampai berlanjut sampai kini, semoga saja sampai kami sudah beranak cucu nanti. Kami terdiri dari beberapa orang perempuan dan laki-laki yang berteman dan punya visi mengelilingi seluruh Nusantara.

Saya memang berprinsip, kalau memang bisa dari muda ini jalan-jalan, kenapa enggak? Kalau memang dari uang sendiri kenapa tidak. Dan darisanalah kami memulai, memulai dengan trip yang dekat ke Pulau Tidung, lanjut ke Trip Belitung, yang dananya saja kami kumpulkan dengan cara rajin menjadi pengawas ujian. Informasi disebarkan. Kerja pagi hingga malam dilanjutkan. Dan sampai akhirnya bisa ke Negeri Laskar Pelangi adalah sebuah keseruan tersendiri. Kadang kami sering mendengar kami dicap tukang jalan jalan mulu. Gak usah lah didengerin orang lain, karena kami sendiri tahu batas kemampuan  dan prioritas hidup kami.

Sebenernya jalan-jalan tuh, apalagi di Indonesia  memang menyenangkan dan membuat kita banyak belajar. Belajar memanage perjalanan, belajar mendistribusikan sedikit penghasilan kami kepada orang orang daerah, belajar geografi secara praktikal, belajar berkomunikasi di tempat baru dan belajar memaknai sebuah persahabatan. So far, kami melakukan perjalanan dengan orang yang berbeda-beda, tak lepas pula dari intrik, masalah dalam setiap trip.  

Saya merasa jadi saya sendiri bersama mereka. Tertawa, hina-menghina, bahas masa lalu, bahas masa depan, berargumen, berandai-andai, membahas prospek perusahaan tempat kerja masing-masing, curhat pengen cepet resign, ataupun masalah percintaan, mungkin di dalamnya ada yang saling suka juga, ada yang saling patah hati juga, tapi jangan dianggap terlalu bagaimana karena pada akhirnya kami semua berteman. Haha.

Kami tak hanya sekedar jalan-jalan, kami jadi kawan diskusi menyenangkan, jadi teman menonton film, jadi teman random dikala penat, membuat social project bersama yang tak kami kira berhasil mengumpulkan 10 juta dalam 2 minggu, lalu berkembang dengan membuat arisan yang tetap mempertahankan silaturahmi dibandingkan dengan nominal yang dikumpulkan. Jadi teman-teman yang random, tak banyak wacana, dan punya cara untuk berkarya dengan segala cara. Dimulai dari Pulau Tidung, Belitung, Dieng, Karimun Jawa, Sawarna, Yogyakarta, Bandung, Green Canyon, dan terakhir Makassar. Semoga kami bisa menjelajah lebih baik lagi dan terus belajar.

Ini adalah part dalam hidup saya yang saya akan bangga-banggakan pada anak saya nanti. Salam!

Group Chat: Wacana atau Konkrit?

From Ira.