sebuah corat coret Nurul Anisa Putri Senin pagi menuju Jakarta, Sabtu pagi meninggalkan Jakarta Free Hit Counters
Free Web Counter

 

Adegan Bandara

Akhir akhir ini memang tren terkini lagi sering liat momen adegan bandara. Saya memang gak pernah tahu sih rasanya, sampai saya bilang sama temen temen saya kalian salah satu dong ada yang kuliah ke luar biar ada adegan bandara. Awalnya saya pikir adegan bandara itu menyenangkan.

Sampai seorang teman bilang, lu pikir adegan bandara enak? gak enak kali ditinggalin gtu,rasanya pengen nangis apalagi bertahun tahun. kecuali lo yang dianterin ke bandara mungkin itu jadi momen manis buat lo.

Oh, well gue salah menerka. Adegan bandara harusnya tidak gue idamkan. Gue pikir itu keren, berandai andai dia pergi kesana menuntut ilmu dengan kerennya. Preeet.

Ternyata kenapa adegan bandara itu gue anggap keren, kebanyakan nonton film sih, ngejar adegan bandara yang keren keren. Film aadc, eiffel i’m in love, finding mr. destiny, dan film film lainnya yang menyatakan adegan bandara itu manis.

Nyatanya, adegan bandara yang pernah saya rasakan selalu konyol, entah itu ke bandara hampir telat pake gak mandi padahal buat kerjaan, entah ngejar jam boarding sambil dorong barang berat di changi dari pintu paling ujung, kepagian 5 jam di bandara, dan ngejar pesawat d tengah kemacetan makassar sambil bawa otak otak dan sirup markisa yg beratnya naujubile. Gak ada yang manis, gak ada yang mengharukan, tapi gue deg degan kayak mau pingsan. Gatau bakal ada adegan bandara apa lagi yang bakal terjadi? So far, saya gak bakal sedih karena mungkin gak ada yang bakal tiba tiba ngebuat adegan bandara saya jadi mengharukan. but, who knows?

Pendidikan Indonesia di Mata Dunia

Bolang si Bolang

Waktu kecil, saya selalu berpikiran untuk punya teman-teman dengan visi yang sama. Sebuah kumpulan teman-teman yang bisa berpetualang bersama. Ternyata di waktu kuliah lah saya menemukannnya. Teman-teman yang tidak secara sengaja terkait satu sama lain. Berawal dari Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, bekerja di berbagai perusahaan swasta dan sampai berlanjut sampai kini, semoga saja sampai kami sudah beranak cucu nanti. Kami terdiri dari beberapa orang perempuan dan laki-laki yang berteman dan punya visi mengelilingi seluruh Nusantara.

Saya memang berprinsip, kalau memang bisa dari muda ini jalan-jalan, kenapa enggak? Kalau memang dari uang sendiri kenapa tidak. Dan darisanalah kami memulai, memulai dengan trip yang dekat ke Pulau Tidung, lanjut ke Trip Belitung, yang dananya saja kami kumpulkan dengan cara rajin menjadi pengawas ujian. Informasi disebarkan. Kerja pagi hingga malam dilanjutkan. Dan sampai akhirnya bisa ke Negeri Laskar Pelangi adalah sebuah keseruan tersendiri. Kadang kami sering mendengar kami dicap tukang jalan jalan mulu. Gak usah lah didengerin orang lain, karena kami sendiri tahu batas kemampuan  dan prioritas hidup kami.

Sebenernya jalan-jalan tuh, apalagi di Indonesia  memang menyenangkan dan membuat kita banyak belajar. Belajar memanage perjalanan, belajar mendistribusikan sedikit penghasilan kami kepada orang orang daerah, belajar geografi secara praktikal, belajar berkomunikasi di tempat baru dan belajar memaknai sebuah persahabatan. So far, kami melakukan perjalanan dengan orang yang berbeda-beda, tak lepas pula dari intrik, masalah dalam setiap trip.  

Saya merasa jadi saya sendiri bersama mereka. Tertawa, hina-menghina, bahas masa lalu, bahas masa depan, berargumen, berandai-andai, membahas prospek perusahaan tempat kerja masing-masing, curhat pengen cepet resign, ataupun masalah percintaan, mungkin di dalamnya ada yang saling suka juga, ada yang saling patah hati juga, tapi jangan dianggap terlalu bagaimana karena pada akhirnya kami semua berteman. Haha.

Kami tak hanya sekedar jalan-jalan, kami jadi kawan diskusi menyenangkan, jadi teman menonton film, jadi teman random dikala penat, membuat social project bersama yang tak kami kira berhasil mengumpulkan 10 juta dalam 2 minggu, lalu berkembang dengan membuat arisan yang tetap mempertahankan silaturahmi dibandingkan dengan nominal yang dikumpulkan. Jadi teman-teman yang random, tak banyak wacana, dan punya cara untuk berkarya dengan segala cara. Dimulai dari Pulau Tidung, Belitung, Dieng, Karimun Jawa, Sawarna, Yogyakarta, Bandung, Green Canyon, dan terakhir Makassar. Semoga kami bisa menjelajah lebih baik lagi dan terus belajar.

Ini adalah part dalam hidup saya yang saya akan bangga-banggakan pada anak saya nanti. Salam!

Group Chat: Wacana atau Konkrit?

From Ira.

Kereeeen! Masih belom berani ke luar negeri sendirii, kagak boleh gue heuheu gak brani jugee

isnidalimunthe:

rumahperubahan:

Talkshow Inspiratif “Rumah Perubahan Rhenald Kasali”

Self Driving : Mahasiswa UI

Selasa, 20 Agustus 2013 jam 20.00 - 21.00 WIB di TVRI Nasional


Narasumber yang hadir kali ini sedikit berbeda dengan biasanya, karena kali ini narasumbernya tak hanya satu orang. Ada ‘rombongan’ mahasiswa Rhenald Kasali yang akan berbagi tentang pengalaman mereka mengikuti program “Self Driving” yang diterapkan Rhenald Kasali pada mahasiswa-mahasiswanya di Universitas Indonesia.

Rhenald Kasali ingin mendidik mahasiswanya agar punya mental driver. Orang-orang yang mampu menjadi driver atas diri mereka sendiri tentu akan mampu membuat perubahan-perubahan. Orang-orang bermental driver ini tak pantang menyerah ketika menemui kesulitan dan selalu berusaha menemukan jalan walau tersesat. 

Rhenald Kasali mewajibkan para mahasiswanya untuk pergi ke luar negeri. Satu orang harus pergi minimal ke satu negara dan tak boleh ada mahasiswa yang pergi ke negara yang sama. Para mahasiswa 
pun wajib pergi sendirian, tak boleh ditemani keluarga atau sanak-saudara.


Untuk menjalankan tantangan tersbeut, banyak usaha yg harus dilakukan para mahasiswa. Mulai dari melobby orang tua, mencari uang baik dari tabungan mereka atau bekerja paruh waktu, serta berbagai usaha lain yang mereka lakukan demi dapat memenuhi tantangan. 


Kisahnya tak sampai disitu saja, di negeri orang mereka tersesat, terpaksa belajar membaca peta, ketinggalan pesawat, salah naik kereta,  tak bisa berkomunikasi dengan penduduk lokal yang gagap bahasa Inggris, dan banyak lagi kisah menarik lainnya yang akhirnya mendidik mental mereka menjadi driver. Anak-anak manja belajar hidup lebih mandiri. Anak-anak penakut menjadi pemberani. Mereka melihat dunia yang lebih luas dan bertemu orang-orang baru. Banyak hal yang mereka dapatkan dari perjalanan itu, bahkan mereka merasa lebih mencintai Indonesia. 

Penasaran dengan kisah mereka?
Simak tayangannya di playlist youtube kami. Jangan lupa subscribe akun youtube kami ya agar Sahabat Perubahan bisa mendapatkan update terbaru. Dan pastinya jangan lupa nonton talkshow inspiratif ini setiap Selasa jam 20.00-21.00 WIB di TVRI Nasional  :)

KEREEEEEEEN! \=D/

Kereeeen! Masih belom berani ke luar negeri sendiri