May 2013
2 posts
April 2013
2 posts
**Story of Appreciation**
One young academically excellent person went to apply for a managerial position in a big company.
He passed the first interview, the director did the last interview, made the last decision.
The director discovered from the CV that the youth’s academic achievements were excellent all the way, from the secondary school until the postgraduate research,
Never had a year when he did not score.
The director asked,
“Did you obtain any scholarships in school?”
The youth answered “none”.
The director asked,
” Was it your father who paid for your school fees?”
The youth answered,
“My father passed away when I was one year old, it was my mother who paid for my school fees.
The director asked,
” Where did your mother work?”
The youth answered,
“My mother worked as clothes cleaner.
The director requested the youth to show his hands.
The youth showed a pair of hands that were smooth and perfect.
The director asked,
” Have you ever helped your mother wash the clothes before?”
The youth answered,
“Never, my mother always wanted me to study and read more books.
Furthermore, my mother can wash clothes faster than me.
The director said,
“I have a request. When you go back today, go and clean your mother’s hands, and then see me tomorrow morning.*
The youth felt that his chance of landing the job was high. When he went back, he happily requested his mother to let him clean her hands. His mother felt strange, happy but with mixed feelings, she showed her hands to the kid.
The youth cleaned his mother’s hands slowly. His tear fell as he did that. It was the first time he noticed that his mother’s hands were so wrinkled, and there were so many bruises in her hands. Some bruises were so painful that his mother shivered when they were cleaned with water.
This was the first time the youth realized that it was this pair of hands that washed the clothes everyday to enable him to pay the school fee. The bruises in the mother’s hands were the price that the mother had to pay for his graduation, academic excellence and his future.
After finishing the cleaning of his mother’s hands, the youth quietly washed all the remaining clothes for his mother.
That night, mother and son talked for a very long time.
Next morning, the youth went to the director’s office.
The Director noticed the tears in the youth’s eyes, asked:
” Can you tell me what have you done and learned yesterday in your house?”
The youth answered,
” I cleaned my mother’s hand, and also finished cleaning all the remaining clothes’
The Director asked,
” please tell me your feelings.”
The youth said,
Number 1,
I know now what is appreciation. Without my mother, there would not the successful me today.
Number 2,
By working together and helping my mother, only I now realize how difficult and tough it is to get something done.
Number 3,
I have come to appreciate the importance and value of family relationship.
The director said,
” This is what I am looking for to be my manager. I want to recruit a person who can appreciate the help of others, a person who knows the sufferings of others to get things done, and a person who would not put money as his only goal in life. You are hired.
Later on, this young person worked very hard, and received the respect of his subordinates. Every employee worked diligently and as a team. The company’s performance improved tremendously.
A child, who has been protected and habitually given whatever he wanted, would develop “entitlement mentality”and would always put himself first. He would be ignorant of his parent’s efforts.
When he starts work, he assumes that every person must listen to him, and when he becomes a manager, he would never know the sufferings of his employees and would always blame others.
For this kind of people, who may be good academically, may be successful for a while, but eventually would not feel sense of achievement.
He will grumble and be full of hatred and fight for more. If we are this kind of protective parents, are we really showing love or are we destroying the kid instead?*
You can let your kid live in a big house, give him a Driver & Car for going around, Eat a Good Meal, learn Piano, Watch a Big Screen TV. But when you are Cutting Grass, please let them experience it. After a Meal, let them Wash their Plates and Bowls together with their Brothers and Sisters. Tell them to Travel in Public Bus, It is not because you do not have Money for Car or to Hire a Maid, but it is because you want to Love them in a right way. You want them to understand, no matter how rich their parents are, one day their hair will Grow Grey, same as the Mother of that young person. The most important thing is your kid learns how to appreciate the effort and experience the difficulty and learns the ability to work with others to get things done..
Pls share it
March 2013
0 posts
February 2013
1 post
January 2013
2 posts
December 2012
10 posts
November 2012
1 post
September 2012
1 post
August 2012
1 post
Surat terbuka ini dimuat di mediaindonesia.com pada Rabu, 08 Agustus 2012 14:15 WIB. Kayaknya seru nih pas wisuda tanggal 7 September bikin “sesuatu.” :D
Bapak Menteri Pendidikan dan Kebudayaan yang saya hormati.
Kutulis ini didorong oleh kegalauan yang sangat. Tidak tahu lagi harus membenturkan diri ke mana.
Di mata saya, seluruh organ di Universitas Indonesia sudah mampat dan pintu kebijaksanaan serta perbaikan bagaikan tak akan pernah ditemukan. Segalanya beku, kaku, dan henti. Orang pandai tak punya berani. Orang baik kekurangan percaya diri.
Maka, banyaklah kepintaran yang gelap menari-nari, mencari mungkin, dengan berbagai langkah memastikan maunya sendiri. Saat ini tak sehat universitas kami. Dan dengan rasa malu yang dalam, kutulis surat ini untukmu.
Kampus megah di Jawa Barat itu, Pak Menteri, dengan gedung-gedung mewah serta impian mendunia itu, saat ini sepi. Diam (antara lain karena libur antarsemester). Para dosen datang dan pergi, karena tidak harus mengajar, dia datang hanya untuk kepentingan tertentu, bukan rutin mengajar.
Paling-paling rapat, lokakarya perbaikan silabus, pinjam buku, atau menulis rekomendasi. Para mahasiswa? Mereka juga belum kembali dari istirahatnya yang panjang. Mereka perlu penguatan dan pemulihan dari keluarganya.
Beberapa hari lalu jaket kuning memang tampak bertebaran, namun kudengar, itu hanya maba (mahasiswa baru), yang agaknya sedang dihimpun-terima oleh kakak-kakaknya. Dengan demikian, di kampus semua tampak biasa-biasa saja.
Di mata orang luar, begitulah adanya kampus yang sedang antarsemester. Tetapi sesungguhnya, UI benar-benar sedang tiada kontrol. Masyarakatnya galau. Ada bara yang panas di sini. Dan menurut kata banyak orang, dengan rumus benar, jujur, dan adil, bau busuk juga menyebar ke mana-mana dan tercium di mana-mana. Jangan lupa, tersiar kabar yang dapat dipercaya, beberapa petinggi UI mengajukan pengunduran diri.
Direktur, kepala kantor, dan lainnya, mulai gerah dan tak tahan kena sorotan. Saya tidak bicara orang kedua yang malah sudah lama tak sejalan dengan penguasa tunggal di Universitas Indonesia. Saya dengar, banyak orang sudah mulai bimbang.
Mayoritas yang bisu mulai clingak-clinguk. Malah kata sebagian orang yang gemar menggunakan kepintaran berbeda, rektor yang kejam itu sudah mulai cemas dengan sepak-terjangnya yang tak karuan. Kampus yang indah itu, Pak Nuh, tempat berlibur dan mencari hawa segar di hari Minggu bagi masyarakat itu, sesungguhnya sedang sakit parah.
Kampus idaman generasi muda Indonesia itu, harapan masyarakat Indonesia itu, yang bertugas melahirkan pemimpin masa depan Indonesia itu, saat ini sedang sekarat.
Bapak Menteri yang saya hargai. Sesungguhnya Bapak tahu semuanya, mengikuti gonjang-ganjing apa yang terjadi di UI sejak awal, ketika akhirnya pecah kesatuan teriak di kampus kami, kampus perjuangan menyatakan UI is NOT for Sale. Dan Pak Menteri jugalah yang selalu mengatakan bahwa kami pasti dapat menyelesaikan masalah internal kami. Bapak memberi kami kesempatan mengatur diri dengan benar, dengan jujur, dan dengan adil.
Namun, dengan demikian rupa kesepakatan, peraturan, arahan yang ada, rektor UI Gumilar R. Somantri yang harusnya cendekia dan hanya melakukan segalanya untuk kemaslahatan sebanyak mungkin orang yang dipimpinnya, malah berlaku sebagai raja-diraja. Memang sudah lama dia merajalela demikian. Ingat, kan? Setelah memecat Dekan Fakultas Kedokteran karena mengadukannya ke KPK, dan mendapat tantangan dan penolakan dari berbagai pihak, seperti orang kalap dia pecati tujuh Dekan dan seorang ketua Program Pascasarjana.
Maka keluarlah Mosi Tidak Percaya dari sembilan Dekan, dan lihatlah, mahasiswa kami, anak-anak yang sesungguhnya “belum tahu apa-apa” itu sudah bergerak dan “menuntut Rektor UI turun paling lama tanggal 12 Agustus 2012.”
Pak Nuh yang baik. Tolonglah melihat dan merasakan situasi kami. Pandanglah kami yang bingung, sedih, dan terpuruk karena persoalan pelik yang tak mungkin kami pecahkan sendiri. Malu memang. Malu benar. Masa orang-orang pandai, yang berhimpun dalam universitas berkelas dunia, tak bisa mengatur dirinya? Majelis Wali Amanat UI menyatakan bahwa masa tugas rektor UI berakhir pada 14 Agustus 2012.
Seperti tadi saya singgung, mahasiswa sendiri tak mau menunggu selama itu. Bapak tahu, mengapanya. Pun kami, orangtua, para guru di Universitas Indonesia bisa memahami, bahkan banyak di antara kami yang menghendaki yang serupa. Dan dengan pertimbangan yang baik dari Bapak, saya tahu, kami akan diberi Pejabat untuk memimpin UI menentukan dan memilih rektornya yang baru. Artinya, pejabat yang akan datang ini akan mengantar UI kembali ke kesejatiannya sebagai universitas.
Pak Nuh yang bijaksana. Inilah yang utama hendak saya utarakan. Melalui surat ini, saya memohon dengan sangat. Mengingat universitas adalah lembaga inisiasi kebebasan berpikir, rumah pengetahuan yang hakikatnya adalah memproduksi pengetahuan bagi masyarakat, yang seyogianya dikelola dengan etika akademik, seperti di UI disebut veritas, probitas, iustitia, mohonlah pejabat yang akan Anda utus sedikitnya memiliki integritas yang tinggi. O
rang yang berwibawa dan berpenghayatan atas ketiga nilai itu. Orang yang karena reputasinya dapat diterima dengan baik oleh semua kalangan. Orang yang dapat dipercaya karena kesungguhan kerja dan tanggung jawabnya membawa kebaikan bagi Universitas Indonesia, dan dengan demikian bagi pendidikan di Indonesia pada umumnya. Malahan kalau merujuk kekuatan UI, kepongahan, dan keserakahannya seperti dapat kita lihat hingga kini di bawah kepemimpinan rektor yang segera berakhir masa tugasnya, maka utusan dari Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, kalau mungkin hanyalah orang yang berani berkata ya kalau ya dan tidak kalau tidak. Singkatnya, kami memerlukan orang yang menguasai masalah dan memahami keadaan dan dengan bijaksana –tidak disetir kepentingan pribadi, kelompok, kekuatan politik, kekuatan uang dan sebagainya— mengelolanya bersama sivitas akademika.
Sebagai guru, kita sama-sama tahu bagaimana pada dasarnya, tugas utama kita adalah mendidik. Dalam mengajar dan kita mendidik ini, kita membangun dan membuka pikiran manusia, yang dalam UU SISDIKNAS No. 20 Tahun 2003 dikatakan, “membentuk watak serta peradaban bangsa.” Hakikatnya, kita sedang mempersiapkan masa depan manusia dan bangsa Indonesia. Itulah tugas universitas.
Pak Nuh yang teduh hati. Siapakah UI sehingga dia harus diistimewakan, secara khusus dan berlama-lama dijaga diperhatikan pemerintah di wilayah Senayan sana? Mengapakah dia boleh menguras waktu para pejabat Negara? Tidakkah seharusnya dia wajib, dengan keadaannya yang lebih matang, lebih tua karena lahir sejak 1849, membantu pemerintah meringankan beban Negara, mengurusi ratusan universitas lainnya, yang pasti juga mempunyai berbagai permasalahan? Ini. Pertanyaan-pertanyaan pelik inilah yang membuat saya malu menulis surat ini, Pak Nuh. Saya malu dan menjadi rendah diri. Lagi-lagi UI harus meminta perhatian umum, lagi-lagi harus menjadi sorotan dan buah bibir semua orang. Hanya karena ulah seorang pemimpin yang egosentrik tak terkendali, yang melupakan tugas utamanya memproduksi pengetahuan bagi masyarakat tempatnya berhutang.
Sejawatku Nuh yang sabar. Utuslah seorang guru yang bijak berhati mulia serta berjiwa ksatria,—lelaki maupun perempuan—, membantu kami, dan bersama sivitas akademika UI dapat menyelamatkan Universitas Indonesia. Kami lelah dan sangat risau menanti keputusanmu.
Kami takut masuk kembali dalam cengkeraman dan kuasa pimpinan yang segera berhenti ini. Ingatlah kami para pengajar yang ingin berkarya untuk bangsa dan negeri sendiri, para karyawan yang ingin memberi diri, dan para mahasiswa dari segala lapisan dan kalangan di seluruh Indonesia.
Dengan segala keterbatasan namun harapan dan semangat untuk maju yang tinggi kami ingin bersama dan dengan arahan Anda, membangun Indonesia.
Saudaraku Nuh yang budiman. Kami tak ingin kembali dijajah oleh rektor yang masa tugasnya segera berakhir.
Kami memerlukan rektor yang punya integritas tinggi. Yang sadar akan hakikat universitas. Yang kolegial, yang mau bekerja sama, yang mau mendengar, yang mau peduli, dan yang rela berkorban untuk kebaikan lembaga yang dipimpinnya.
Terima kasih banyak, dan terimalah salam demi Indonesia,
Riris K. Toha-Sarumpaet
Guru Besar Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya UI
July 2012
22 posts
May 2012
12 posts
*pengalaman selama 10 tahun jadi pendukung timnas Jerman*