May 2011
27 posts
Aku suka tempat ini. Tempat menjual teh yang terbaik di kota. Teh nya tidak seperti toko franchise-franchise yang ada dan terkenal. Kedai teh ini tidak membuka cabang di tempat lain. tak ingin membuka cabang lain,
kata si pemiliknya, “tak apalah ini hartaku satu satunya, selain anakku itu satu satunya” si Ibu sambil menunjuk seorang lelaki tegap yang sedang memandangi jendela.
Aku tertegun. Setiap aku ke kedai ini, aku selalu melihatnya. Tadinya dia itu kukira adalah seorang pelanggan setia, atau seorang pekerja yang sangat mencintai kedai teh ini.
Dari sejak SMA, aku bersama kawan kawanku suka iseng dan berlagak nongkrong di kedai ini. Dan sekalinya iseng, tempat ini membawa kebahagiaan tersendiri. Jika berlama lama disini rasanya mulut tak berhenti berbicara, gelak tawa sering tercipta. Mungkin karena udara kotaku yang sejuk di selatan Jakarta, si Ibukota yang sering terlalu membawa duka bagi negeri. Tinggal, bersekolah di kota ini rasanya memang nyaman, meski kecil, namun memiliki sejuta cerita. Ketika ada kawanku yang berulangtahun kami ke kedai teh ini, lalu ketika kami lulus SMA dan siap menjalani hidup berkuliah masing masing di tempat berbeda kami kesini, bahkan ketika kami malas dengan pelajaran fisika yang terkadang membuat setengah otak ini jadi panas, kami kesini.
Lalu, selanjutnya jika masing masing dari kami berlima libur dari kuliah kami juga kesini dengan membawa segenggam kartu remi dan hanya iseng dengan bermain cangkulan atau 41. Terkadang kami tidak melakukan aktifitas yang penting disini, sekedar menyampah dan melepas penat. Tempatnya memang sangat asri sekali. Berada di tengah kota kecil yang rimbun pepohonan. Bangunannya hanya sebuah bangunan rumah zaman Belanda yang atapnya menyerupai limas dan pinggiran dinding berbatu dan dicat warna hitam.
Aku pernah bertanya kepada Ibu pemilik kedai “ Bu mengapa bangunan zaman dahulu atap rumahnya seperti itu?”
Ternyata hal tersebut memiliki fungsi agar air hujan tidak masuk dan membuat bocor, air hujan akan jatuh dan condong langsung turun ke bawah. Begitu penjelasan dari si Ibu pemilik kedai.
***
Setiap aku pergi kesini, rasa akan kehangatan selamat datang terasa. Walau dengan bangunan tua, namun si pemilik selalu bisa membawakan suasana yang cozy. Lampu lampu temaram dinyalakan. Kursi kursi kayu mahoni sengaja diletakkan di luar rumah dan beratapkan tanaman rambat. Di dinding kedai ada papan tulis yang menuliskan menu favorit teh para pengunjung agar pengunjung yang baru pertamakali kesini tidak asal memilih menu dan terpuaskan. Setiap hari selalu diiringi oleh lagu lagu yang unik, terkadang tak jarang lagu latin, lagu korea, lagu perancis ataupun lagu tempo dulu indonesia dihadirkan. Ini tak lain, karena pemilik kedai ingin selalu kedainya ramai, penuh cerita dan gelak tawa.
Dengan pintarnya si ibu pemilik kedai menyiapkan menu menu kue yang lezat, dari kue tradisional sampai kue ala luar negeri. Rasanya selalu nyaman meminum teh dengan sedikit kue. Aku suka teh hijau panasnya. Teman temanku lebih suka teh tarik dan yang lainnya lebih menyukai teh yang dicampur susu. Sederhana, namun selalu sama rasanya ketika berkunjung kesini. Aku pikir kedai ini bukan saja untuk menarik keuntungan, pasti bukan sekedar itu. Jika memang untuk mencari sebuah keuntungan, pasti sudah ada cabang cabang lain di kota besar lainnya. Seringkali kulihat Ibu pemilik kedai berbincang dengan beberapa tamu dan seperti tidak enak menolak tawaran tawaran kerjasama.
Aku perhatikan dengan seksama, sepertinya teh memiliki hal lain daripada sekedar air yang diseduh dengan pucuk pucuk teh yang telah diolah. Sepertinya teh memiliki hal yang sangat penting bagi Ibu Pemilik Kedai. Teh itu bisa mencairkan suasana, menghangatkan obrolan dan teman berbincang yang unik. Hampa rasanya jika kita berbincang dengan seseorang tanpa meneguk sebuah minuman. Teh bisa menjadi sebuah jeda obrolan, sebuah hal untuk berpikir ulang dengan meneguk sebuah teh. Bagi ibu pemilik kedai, teh adalah segalanya.
***
Sebenarnya aku penasaran setiap kesana. Lelaki di sudut meja itu selalu ada. Selalu memandangi jendela dan terkadang seperti berbicara sendiri dengan orang lain. Wajahnya bersih, selalu mengenakan kemeja. Aku pernah bertanya pada seorang pelayan, mengapa ada lelaki itu selalu, ternyata dia adalah anak pemilik kedai ini. Tak lain adalah anak satu satunya ibu itu. Aku terkadang berpikir mengapa ia tidak membantu ibunya , hanya sekedar duduk dan meminum teh.
Kubuang rasa penasaran itu, mengapa kupikirkan hal yang agak aneh itu. Yang terpenting tempat ini sangat menyenangkan untuk aku dan kawan kawanku. Sudah beberapa tahun aku tidak mengunjungi tempat ini. Aku iseng saja ingin sendirian ke tempat ini. Namun, rasanya ketika kesini aku sedih. Melihat kedai ini sudah tutup. Lalu disebelah kedai ada warung kecil yang menjual rokok. Dengan iseng saja aku tanya kedai ini memang tutup atau pindah ke tempat lain.
Dan tiba tiba dia bercerita : “Teteh, gak tahu kalau Ibu pemilik kedai itu sudah meninggal setahun lalu dan tidak ada pengurusnya lagi. Anaknya Ibu itu agak kurang waras. Dia agak stres gara gara pernah jatuh cinta pada pengunjung kedai yang selalu dijumpainya. Tapi tiba tiba wanita pengunjung kedai itu hilang”
Pantas saja, pernah aku lihat secara iseng melewati meja lelaki itu berpura pura ke wc, dan setiap kulihat cangkirnya tak ada isinya. Hanya gelas kosong dan selalu begitu.
Lalu aku bertanya lagi pada pemilik tukang rokok itu : ” Trus kenapa Ibunya seperti selalu bersemangat membuka kedai teh walau anaknya sakit. Seperti tidak memiliki beban sama sekali yah, A ?”
“ Katanya kalau kedai selalu ramai ini teh bikin ibu tidak selalu memikirkan anaknya, mengobati lukanya, karena kedai bisa membuat pengunjung berbahagia juga anaknya itu. Dia tetap ingin melihat anaknya tersenyum di kedai meski tahu tidak mengerti apa yang sebenarnya anaknya pikirkan”
Dan sejak saat itu aku tahu, gelas kosong yang tak berisi teh itu adalah ketidakbahagiaan, kecemasan anaknya yang menunggu ketidakjelasan. Dan ia amat tidak menyukai teh. Dibiarkanlah gelas itu selalu kosong. Padahal bukankah hidup itu seperti teh, meski agak terasa pahit, agak tawar dan berbagai rasanya tetap bisa dirasakan kenikmatannya dengan segala cara.
Find a girl who reads. You’ll know that she does because she will always have an unread book in her bag.She’s the one lovingly looking over the shelves in the bookstore, the one who quietly cries out when she finds the book she wants. You see the weird chick sniffing the pages of an old book in a second hand book shop? That’s the reader. They can never resist smelling the pages, especially when they are yellow.
She’s the girl reading while waiting in that coffee shop down the street. If you take a peek at her mug, the non-dairy creamer is floating on top because she’s kind of engrossed already. Lost in a world of the author’s making. Sit down. She might give you a glare, as most girls who read do not like to be interrupted. Ask her if she likes the book.
Buy her another cup of coffee.
Let her know what you really think of Murakami. See if she got through the first chapter of Fellowship. Understand that if she says she understood James Joyce’s Ulysses she’s just saying that to sound intelligent. Ask her if she loves Alice or she would like to be Alice.
It’s easy to date a girl who reads. Give her books for her birthday, for Christmas and for anniversaries. Give her the gift of words, in poetry, in song. Give her Neruda, Pound, Sexton, Cummings. Let her know that you understand that words are love. Understand that she knows the difference between books and reality but by god, she’s going to try to make her life a little like her favorite book. It will never be your fault if she does.
She has to give it a shot somehow.
Lie to her. If she understands syntax, she will understand your need to lie. Behind words are other things: motivation, value, nuance, dialogue. It will not be the end of the world.
Fail her. Because a girl who reads knows that failure always leads up to the climax. Because girls who understand that all things will come to end. That you can always write a sequel. That you can begin again and again and still be the hero. That life is meant to have a villain or two.
Why be frightened of everything that you are not? Girls who read understand that people, like characters, develop. Except in the Twilightseries.
If you find a girl who reads, keep her close. When you find her up at 2 AM clutching a book to her chest and weeping, make her a cup of tea and hold her. You may lose her for a couple of hours but she will always come back to you. She’ll talk as if the characters in the book are real, because for a while, they always are.
You will propose on a hot air balloon. Or during a rock concert. Or very casually next time she’s sick. Over Skype.
You will smile so hard you will wonder why your heart hasn’t burst and bled out all over your chest yet. You will write the story of your lives, have kids with strange names and even stranger tastes. She will introduce your children to the Cat in the Hat and Aslan, maybe in the same day. You will walk the winters of your old age together and she will recite Keats under her breath while you shake the snow off your boots.
Date a girl who reads because you deserve it. You deserve a girl who can give you the most colorful life imaginable. If you can only give her monotony, and stale hours and half-baked proposals, then you’re better off alone. If you want the world and the worlds beyond it, date a girl who reads.
Or better yet, date a girl who writes.” —
Rosemarie Urquico (via kblitz)
(via conversationslips)
Rosemarie no longer has an active blog, but she can be found on Facebook here: http://www.facebook.com/home.php?#!/profile.php?id=585211028
To see the post about how she was found, please go here. Thanks to Booksnbrew for searching!
(via themonicabird)
Fahma Waluya- Peraih Liputan6 Awards Inspirasi Generasi Muda via Iradest
Semoga kamu jadi ganteng, pintar, tidak sibuk dan menepati janji ya nak :p
Klik disini untuk mengikuti kuis lebih lanjut
Pada suatu hari, saya naik angkot dari arah Cigombong menuju rumah. saat itu angkot melewat daerah Danau Lido dan kawasan sekitar Lido di jalan raya Sukabumi. Kalau yang belum tahu, itu daerah tempat wisata, hotel, golf dan restoran terapung. Tempatnya lumayan bagus, beberapa tahun terakhir dibangunlah sebuah pusat rehabilitasi narkoba. Saya juga agak bingung kenapa sebuah pusat rehabilitasi dibangun disana, kemungkinan tempatnya sepi sehingga menyulitkan para pasien rehab untuk kabur, karena sekelilingnya ilalang dan danau.
Saat itu pula ada calon penumpang yang memberhentikan angkot ini, terjadilah percakapan seperti ini :
Seorang Lelaki : “Bang, numpang sampai ke depan sana ya, nyampe tukang ojek”
Supir Angkot : “oh iya, emang dari mana? ” (mungkin dikiranya cuman numpang bentar, layaknya tukang asongan)
Seorang Lelaki : “Ini dari situ, kabur” dengan nada enteng
saya kirain mereka saling kenal, padahal enggak loh. lelaki itu berpakaian putih, gak pake alas kaki, gak bawa apa apa, dan lucunya bajunya sampai seluruh badan basah kayak abis berenang.
Sumpah sampai saat itu saya agak bingung, nih orang kayaknya agak gila, masa naik angkot bajunya basah seluruh tubuh, dan pas dia bilang kabur, pasti nih orang kabur dari pusat rehab narkoba. dari mana lagi cobaa..
Seorang Lelaki :”bang, kalau taksi dimana ya?”
Supir Angkot : “disini mah gak ada taksi”
Seorang Lelaki : “kalau ojek?”
Supir Angkot : “oh situ tuh ada”
Menurut pengamatan saya nih orang habis renang dari tempat kaburnya, ya itu kalau gak pusat rehab narkoba atau gak hotel atau gak dia mau dibunuh orang. akhirnya saya memang turun dari angkot. Seorang lelaki itu berbicara pada abang ojek.
Seorang Lelaki : “Bang Ojek yaa”
Abang Ojek :” iya ojek, mau kemana?”
Seorang Lelaki : “Bang, ke Tanjung Priuk berapa?”
hah, gak salah denger nih udah kabur dia bilang mau ke Tanjung Priuk dari Jalan raya sukabumi, itu mah jauuuh pisaaan,bagaikan dari Jakarta menuju Karawang kayaknyayang ada ojeknya bisa rusak kaliii. lagian lelaki aneh itu gak bawa apa apa, mau bayar pake apa coba…mau bayar pake kolornya dia yang udah basah emangnyaa!! saya pengen ketawa dalam hati…
Abang Ojek : “hah, Tanjung Priuk mana?”
Seorang Lelaki : “Jakarta, berapa?”
Abang ojeknya langsung bingung bingung gitu sambil cengo
Abang Ojek : “gak, gak jadi pak”
Setelah itu saya tidak tahu kelanjutannya, dia kemana dan akhirnya naik apa lagi karena saya turun dari angkot karena sudah sampai. Yang ada di bayangan saya adalah dia bener2 kabur dari pusat rehab narkoba manjat dinding terus berenang dan menyelam lewat danau Lido yang dalem itu sampai dia kebawa ke sungai sungai kecil dan menemukan jalan raya dan dia pastinya orang Jakarta karena dia gak tahu daerah tempat saya. mana ada juga taksi atau ojek yang mau bawa dia? gak ada jaminan bakal bayar! pengen ngakak aja gitu…
kok bisa sih saya ketemu orang orang dengan berbagai cerita ajaibnya?
trus yang aneh lagi tuh orang kabur, tapi bilang bilang -__-
Ketika berbicara inovasi, pasti banyak hal yang terpikir. Inovasi untuk membuat hal-hal yang terbaru dan bermanfaat bagi sekitar. Inovasi pun tidak jarang timbul karena adanya karya-karya orang lain yang hebat sehingga bisa membuat yang lainnya melakukan hal serupa. Dengan berbagai pengalaman dan kreatifitas, sebuah inovasi bisa dijadikan hal yang sangat menguntungkan ke depannya. Namun tak jarang banyak orang yang sudah takut untuk berinovasi, takut gagal, takut rugi maupun menghabiskan waktu. Seharusnya kita belajar dari Thomas Alva Edison yang seringkali gagal menemukan bahan untuk lampu, namun pada akhirnya menjadi sebuah pembelajaran bahwa banyak bahan-bahan yang ada tidak bisa dijadikan bola lampu.
Jangan takut gagal ketika berinovasi, justru masih ada banyak hal yang bisa dijadikan sebuah inovasi. Inovasi yang unik bisa membangun ekonomi serta kemandirian nasional. Dengan berbagai inovasi, kita tidak menjadi tergantung terhadap orang lain. Sedikit cerita mengenai kedua teman saya, walaupun awalnya ragu dengan ide bisnis yang akan dilakukan tetapi mereka tidak pantang menyerah. Salahsatu inovasi yang menurut saya sungguh menginspirasi adalah sebuah website bernama www.hargateman.com oleh Ricky Setiawan dan Ira Destiana, sama sama mahasiswa Manajemen FEUI angkatan 2007, Herdinansyah Eka Putra serta Anita Wulansari yang tergabung dalam Revonation company. Hargateman.com ini adalah website sejenis kaskus dan berbentuk e-commerce.

Menurut mereka, ide bisnis ini dilakukan untuk menyaring berbagai wirausahawan yang masih berkuliah, khususnya di Jabodetabek. Memberi kesempatan lebih kepada mereka yang ingin mempromosikan barang dagangannya dengan cara pertemanan. Maka hadirlah hargateman.com. Proyek ini juga diikutsertakan di UI YSEP 2010, sebuah Program enterpreneur yang diadakan di UI untuk membangkitkan semangat berwirausaha di tingkat mahasiswa.
Hargateman.com ini memang baru diresmikan pada Januari 2011 dan masih mempromosikannya ke kampus-kampus terdekat. Inovasi yang unik karena layaknya pasar, hargateman.com ini mempertemukan penjual dan pembeli untuk melakukan transaksi dan menekankan pada mereka para wirausaha muda yang masih berkuliah untuk melakukan promosi dengan mudah. Website yang dibuatnya oleh sang Director Ricky Setiawan dibuat dengan warna nada hijau yang segar dan user friendly.
Supaya tidak membingungkan bagi mereka yang baru masuk ke website tersebut, ada beberapa hal yang bisa membantu para pengguna melalui blog di situs tersebut. Serta melakukan pencarian pun mudah tinggal memasukkan nama kunci di tempat yang tersedia. Hargateman.com dibuat oleh teman dan untuk teman teman sekalian. Segera kunjungi www.hargateman.com dan nikmati kemudahan untuk melakukan wirausaha atau bisnis kecil-kecilan dengan mudah! :D
Saya bangga pada kedua teman saya yang bergabung untuk melakukan bisnis yang membantu untuk para pebisnis lainnya. Efeknya pun bisa multiplier. Bahkan ketika saya mencoba mengunjungi thread yang ada, pada bagian Event penyelenggara acara tahunan Compfest 2011 pun melakukan promosi. Nah, ini sangat menarik karena acara Compfest 2011 adalah acara tahunan yang bertujuan untuk meningkatkan kemampuan mahasiswa serta lainnya untuk turut serta berkembang bersama teknologi menuju kemandirian nasional. Lomba-lomba yang disertakan mulai dari robotic, game design, programming, hingga blogging bisa menjadi wadah yang berpotensi untuk melihat sebuah inovasi di masa depan. Tidak hanya lomba namun seminar serta workshop juga hadir untuk meningkatkan pengetahuan di bidang teknologi. Untuk info lebih lanjut kunjungi www.compfest2011.com
![]()
Saya selalu percaya, setiap orang memiliki caranya masing-masing untuk bermanfaat bagi sekitarnya. Akan selalu ada alasan untuk segala hal yang dilakukan, akan selalu ada hal yang tersimpan di pikiran yang tinggi imajinasinya. tidak perlu banyak kata untuk mengumbar semua, cukup tunjukkan sesuatu yang penting dan bermanfaat bagi sekitarnya. saya masih belajar mengenai hal ini,