April 2012
13 posts
Tahukah Anda bahwa di Bogor terdapat pura terbesar di Jawa Barat? Pura tersebut adalah Parahyangan Agung Jagatkartta. Pura ini didirikan pada tahun 1995 dan memiliki luas 3 hektar. Suasana disini begitu segar karena pura ini terletak di lereng Gunung Salak, tepatnya di Kampung Warungloa RT 03/09, Desa Tamansari, Kecamatan Tamansari, sekitar 13km dari Bogor arah ke selatan.
Untuk mencapai tempat ini tidak sulit, bisa ditempuh dengan kendaraan pribadi atau angkutan umum. Jika Anda menggunakan angkutan umum Anda hanya akan diantar sampai depan jalan menuju pura. Darisini untuk mencapai pura ada 2 opsi. Pertama Anda bisa naik ojeg sampai pura seharga Rp 7000, atau Anda bisa jalan kaki sejauh 1 km. Opsi jalan kaki tidak buruk karena sepanjang jalan udaranya sangat sejuk dan suasananya begitu asri dipenuhi pepohonan.
Ayahku adalah penyuka comro. Comro adalah salahsatu makanan khas daerah Jawa Barat yang terbuat dari singkong yang diparut dan didalamnya diberi oncom. Bisa oncom hitam atau merah. Comro sendiri merupakan akronim dari ‘oncom di jero’ (bahasa Sunda : di dalam). Entah kenapa dia sangat menyukai makanan itu.
Bahkan dia yang tidak terbiasa memasak, malah jadi sering masuk dapur untuk menguji coba membuat comro bermacam resep, dengan tujuan utama membuat comro terbaik yang terasa garing di luar, tapi lembut di bagian dalamnya.
Ayah juga membeli berbagai macam comro yang dijual di tiap tukang gorengan. Selain tentu saja untuk dinikmati, yang lebih penting adalah membandingkan kualitasnya. Maksudnya, antara comro buatan sendiri dan karya abang gorengan. Serius bener kan?
Terus terang comro buatan Ayah sering kali tidak sukses memang. Kalau tidak terlalu lembek, malah terlalu gosong. Harus dimaklumi, yang penting kan usahanya. Selama masih bisa dimakan, jangan protes he..he..he..
Intinya kami sekeluarga yang menjadi tukang icip-icip pasrah saja kalau comro Ayah sudah matang. Masalahnya, Ayah juga tidak mau dibantu saat membuat snack kesayangannya itu. Apalagi diberi komentar ini itu. pantang! Dia benar-benar tidak mau diganggu. Mungkin ada rasa puas pembuatan comro itu hanya dilakukan oleh tangannya sendiri. Urusan gagal itu lain soal.
Eksperimennya memang aneh-aneh dan mengejutkan, namanya juga tukang masak amatiran. Seperti suatu hari, di atas meja makan sudah ada setumpuk comro hangat baru diangkat dari penggorengan. Warnanya kuning kecoklatan, sungguh menggoda. Wah ini tidak boleh dilewatkan! Sebagai tukang icip-icip reguler, tanpa banyak bertanya saya langsung meng-hap satu butir. begitu dikunyah, kress hmmm apa nih? lidah rasanya langsung terbakar, mata saya melotot. Gilaa!! Pedas sekali!! Buru buru saya ambil segelas air putih.
“Yah, kenapa comro ini rasanya pedas sekali? pake berapa cabe rawit?” tanya saya kepada Ayah.
Yang ditanya, kalem saja tuh. “Oh, itu yang pedas bukan adonan oncomnya, tapi Ayah kasih tahu satu cabe rawit besar di setiap comro. Biar rasanya mantap! Mantap kan, kayak bom?” Wajahnya terlihat puas, seperti seorang chef yang baru menemukan resep baru yang hebat. Hmm!
Sejak itu sebagai tukang icip, saya bikin aksi preventif setiap mencoba comro Ayah. Sebelum dilahap menjadi dua, dalam rangka menyelidiki apakah chef Ayah memasukkan cabe rawit spektakulernya itu. Tak mau lagi aku memakan bom itu mentah-mentah.
Tulisan ini sebuah tulisan yang mengingatkan bahwa di bulan ulang tahunnya kesekian di bulan April, rasa-rasanya saya tak pernah memberikan apa-apa. tapi tak ada yang lebih membahagiakan daripada dibacanya tulisan ini oleh beliau tanpa berkomentar apa-apa. Saya jelas tahu diamnya itu berarti apa.
Pernah dimuat di rubrik Gado-Gado Majalah Femina, 4 Desember 2010. Tepat ketika ulang tahun pernikahan ke 22.